Category: Renungan

  • Sahabat Sejati

    Sahabat Sejati

    Saya memiliki seorang sahabat yang begitu akrab seperti seorang saudara sendiri. Beberapa waktu lalu suami sahabat saya ini mengalami perubahan situasi pekerjaan yang berdampak besar bagi kondisi mereka. Sahabat saya berbagi cerita dan bebannya kepada saya. Katanya, “Hanya kepada kamu aku ceritakan hal ini. Bahkan kepada ibuku sendiri, aku belum bisa bercerita karena tidak mau membuat dia kuatir. Tolong doakan kami, ya.”

    Begitupun dengan saya, di saat saya mengalami kesulitan yang tidak dapat saya bagi dengan orang lain, saya selalu datang dan bercerita kepada sahabat ini. Keriangan yang mungkin dianggap orang lain tidak penting, atau keluh kesah yang terasa sebagai beban, kami bagi berdua. Sungguh saya sangat bersyukur boleh memiliki seorang sahabat yang selama lebih dari 20 tahun berbagi kehidupan dengan saya.

    Salomo mengatakan: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Amsal 17:17 (TB)
    Salomo mengatakan: Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Amsal 17:17 (TB)  

    Memiliki seorang sahabat yang sedemikian merupakan anugerah Tuhan di dalam hidup kita.

    (more…)
  • Habis Hujan Tampak Pelangi

    Habis Hujan Tampak Pelangi

    Hujan. Meskipun hujan itu berguna dan dibutuhkan, tidak semua orang menyukai hujan. Kebanyakan dari kita merasakan hujan sebagai suatu kesulitan. Jalan yang becek, jemuran yang sulit kering, kemacetan di jalan. Hujan sering kali memnghambat aktivitas kita, terutama aktivitas di luar rumah.

    Apalagi kalau cuaca sedang tidak jelas – di kala matahari sedang terik tiba-tiba hujan datang. Atau mendung dan matahari bergantian secara bersamaan, suasan seperti ini sangat tidak nyaman. Kadang kita keluar rumah dengan badan kering dan menjadi basah kuyup oleh hujan yang tiba-tiba datang.

    pelangi datang setelah hujan selesai dan ada matahari

    Tetapi apakah sahabat Pelita Terang tahu, bahwa pelangi hanya terjadi bila hujan selesai turun dan langit tiba-tiba cerah kembali? Hal yang bagi kita tidak terlalu menyenangkan seperti hujan yang tiba-tiba turun di hari yang cerah, justru adalah kesempatan kita untuk melihat pelangi.

    Seberkas bahagia di balik kesusahan

    seberkas bahagia di balik kesusahan

    Seperti cuaca yang berubah-ubah, hidup juga sering sekali tidak stabil. Di hari-hari di mana rasanya semua tenang dan cerah, tiba-tiba kita dihadapkan kepada masalah. Atau bahkan terkadang masalah timbul silih berganti, membuat kita bertanya-tanya, akan adakah hari cerah? Akan adakah hari di depan di mana saya tidak lagi hidup di dalam kesulitan seperti sekarang ini?

    Tetapi persis seperti pelangi datang setelah hujan turun, justru rasa bahagia itu bisa dan semakin bisa dirasakan setelah kita mengalami kesusahan. Duh, pasti banyak yang tidak setuju ya pernyataan ini. Masak sih saya harus susah dulu baru bisa bahagia?

    Andai hidup kita terus lancar, terus sehat, keluarga yang hangat, pekerjaan dan keuangan tidak pernah ada masalah – bisa jadi kita tidak lagi terlalu menghargai berkat Tuhan di dalam kelancaran hidup kita. Banyak orang yang tidak lagi bisa bahagia ketika hidupnya sedang berada di ‘atas’, karena semua kelancaran tanpa kesusahan membuat hidup kita monoton dan akhirnya kita pun tidak lagi bisa menghargai kebahagiaan.

    Matius 5:4

    Kesulitan sering membawa kita masuk ke dalam perasaan berdukacita, dan dukacita membawa kita kepada keputusasaan. Tetapi Tuhan Yesus menyediakan penghiburan bagi siapa yang berada dalam kesusahan.

    Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Matius 5:4 (TB)

    Manusia yang sudah jatuh dalam dosa

    Sangatlah wajar bila kita semua menginginkan kebahagiaan yang tidak pernah putus. Hidup bahagia tanpa masalah – adalah kerinduan setiap manusia. Tetapi kita perlu ingat bahwa pada dasarnya akan selalu ada masalah karena kita hidup di dalam dunia yang sudah mengalami kejatuhan.

    Pada waktu Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan, manusia masuk ke dalam kejatuhan. Artinya rancangan Tuhan akan dunia yang indah sudah rusak oleh dosa. Manusia menerima hukuman atas ketidaktaatannya: Adam perlu bersusah payah untuk mencari makan, Hawa mengalami kesakitan di dalam masa mengandung dan melahirkan. Juga manusia akan terus berada di dalam permusuhan yang panjang dengan kejahatan.

    Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." Kejadian 3:16-19 (TB) 

    Sebuah konsekuensi yang besar yang atas tindakan yang dilakukan oleh nenek moyang kita, dan yang dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang. Hidup kita akan selalu diwarnai dengan kesusahan karena kita hidup di dalam dunia yang sudah penuh dosa. Itu adalah kenyataan.

    Kejadian 3:17

    Tetapi apakah kenyataan manusia berhenti di titik itu? Apakah kesusahan menjadi keadaan final bagi kehidupan kita?

    Tuhan yang mengulurkan tangan dan memberikan kelegaan

    Meskipun manusia pertama tidak patuh kepada perintah Tuhan dan akhirnya diberikan hukuman atas perbuatannya, Tuhan tidak meninggalkan mereka begitu saja. Tuhan membuatkan pakaian dari kulit binatang (Kejadian 3: 21) sebagai penutup dan pelindung bagi tubuh mereka yang terbuka – yang tadinya tidak perlu diperlukan, karena di dalam Taman Firdaus yang sempurna tidak ada rasa kedinginan, rasa tidak aman, dan rasa malu.

    Tuhan membiarkan anak-anakNya menanggung konsekuensi atas perbuatannya: harus bekerja keras dan mengalami kesusahan – tetapi di saat yang sama Ia memberikan topangan, kekuatan, dan jalan keluar bagi manusia untuk melewati hidup yang keras itu. Bahkan Ia memberikan seorang Juruselamat bagi kita, agar hubungan manusia dengan Allah yang sudah terputus bisa kembali dipulihkan.

    Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Titus 2:12-14 (TB)

    Habis hujan, terbitlah pelangi. Meskipun terkadang kita kesal karena hari kita tidak cerah dan di dalam hidup kita memenuhi kesulitan, yakinlah bahwa di balik awan itu, ada pelangi – kekuatan dan sukacita Tuhan yang dianugerahkanNya kepada kita semua.

    Kesulitan kita tidak berlaku selamanya, ada Tuhan yang memberikan kelegaan – tepat di waktu-Nya. Amin.

    Jalan hidup tak selalu
    Tanpa kabut yang pekat
    Namun kasih Tuhan Nyata
    Pada waktu yang tepat
    Mungkin langit tak terlihat
    Oleh awan yang tebal
    Di atasnya lah membusur
    Pelangi kasih yang kekal

    Habis hujan tampak pelangi
    Bagai janji yang teguh
    Dibalik duka menanti
    Pelangi kasih Tuhanku

    Tuhan memberikan kelegaan
  • Allah yang Ingin Mendengar Cerita Kita

    Allah yang Ingin Mendengar Cerita Kita

    “Mama, aku tadi dua kali menangis di sekolah,” tiba-tiba si bungsu berujar. Saya sedang bermain piano ketika dia pelan-pelan mendekat ke punggung saya dan berkata demikian. Mendengar suaranya yang serius, saya langsung berhenti bermain dan memeluk dia.

    “Kamu tadi dipukul oleh Joni,” jawab saya. Dia sudah bercerita tentang hal ini sewaktu saya menjemput anak-anak di sekolah. “Itu satu, apa alasan kedua kamu menangis di sekolah?” sambung saya lagi.

    Si Bungsu menggeleng, “Aku tidak mau cerita.” Hati saya seketika menciut mendengar jawabannya. Si Bungsu ini bisa sangat erat menyimpan sendiri hal-hal yang menyusahkan hatinya. Matanya mulai merah menahan air mata, dan saya tahu dia sangat terganggu dengan persoalan tersebut, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia tidak mau terbuka dengan saya.

    Si bungsu saya ini masih kecil, baru 7 tahun usianya. Baru duduk di sekolah dasar kelas dua. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia nanti tambah besar dan bertemu dengan lebih banyak masalah, tetapi tidak mau membicarakannya dengan saya. Apalagi di zaman sekarang anak-anak sering sekali mengalami kasus bullying di sekolah.

    Sambil memeluk dia, saya berkata, “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau bercerita sekarang. Tetapi Mama harap kamu mengerti kalau Mama ingin menolong kamu, dan Mama sulit membantu kalau tidak tahu apa masalahnya.” Setelah membujuk dan berjanji pada si Bungsu kalau saya tidak akan panjang membahas masalah ini, diapun bercerita sambil menangis bahwa ada teman yang mengejek dia hari itu. 

    Ejekan teman bisa jadi terasa sebagai masalah yang kecil bagi kita orang dewasa, tetapi untuk seorang anak berusia 7 tahun- hal ini menjadi gangguan besar baginya. Sebagai seorang ibu, rasanya tidak rela bila anak saya harus sendirian menanggung deritanya. Saya juga tidak ingin dia berkembang sambil memiliki image yang salah tentang dirinya, atau mengambil keputusan yang tidak bijaksana karena kurang pengetahuannya. 

    Saya ingin menyediakan bukan saja sebuah pelukan dan kepastian bahwa saya mencintai dia, dan Tuhan mencintai dia – apapun masalah yang sedang dialami. Dan saya ingin memastikan bahwa saya bisa membimbing dia melewati masa-masa yang sulit, menyediakan dia kekuatan dan juga menunjukkan jalan yang aman.

    Allah yang bersimpati dalam persoalan kita

    Perasaan saya yang helpless ketika anak saya sedih dan tidak mau bercerita membuat saya berpikir bahwa mungkin itulah perasaan Allah ketika saya sedang berada di dalam kesulitan dan saya tidak datang kepadaNya.

    Allah bukanlah Allah yang dingin dan tidak tergerak oleh keadaan anak-anakNya. Kita memiliki Allah yang luar biasa, karena Allah yang kita sembah bukan hanya Tuhan yang berada di atas segalanya, tetapi juga Tuhan yang pernah mengalami sendiri segala keterbatasan dan kelemahan sebagai manusia.

    Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Ibrani 4:15-16 (TB)

    Tidak ada orangtua yang hatinya tidak ikut trenyuh di saat anak-anaknya mengalami masalah. Meskipun anak-anak sering sekali merasa tidak aman untuk bercerita karena mungkin merasa orangtuanya akan memarahi, tidak bisa bersimpati, atau terlalu sibuk untuk mendengar, kita perlu tahu dan yakin bahwa Allah peduli, dan Allah turut merasakan perasaan kita di saat yang sulit. Jangan ragu untuk datang kepadaNya, karena justru Dia lah yang paling paham akan segala penderitaan yang paling dalam karena Kristus sudah mengalami penderitaan di Golgota.

    Allah yang ingin memberikan kelegaan

    Allah yang memberi kelegaan (pelitaterang.com)

    Mengapa saya ingin anak saya datang kepada saya di saat dia susah? Karena saya ingin memeluk dia erat, dan membuat dia merasa lega karena dia tahu bahwa saya mencintai dia apapun pandangan orang lain akan dirinya.

    Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Matius 11:28-30 (TB)  

    Yesus menawarkan secara pribadi sebuah undangan untuk datang kepadaNya. Dia ingin memberikan kelegaan kepada kita. Sebuah kelegaan yang bukan berarti masalah kita saat itu akan hilang begitu saja, tetapi sebuah kelegaan karena kita bisa belajar dari PribadiNya dan bersamaNya kita mendapatkan ketenangan.

    Masalah yang kita alami mungkin tidak otomatis hilang, tetapi bersama Yesus kita memiliki ketenangan untuk menghadapinya. Kita tahu bahwa kita tidak sendirian, dan apapun yang kita hadapi, kita menghadapinya dengan ringan karena bersama dengan Yesus, kita tidak lagi mengejar untuk memuaskan dan memenuhi tuntutan manusia, tetapi kita ingin mengikuti kehendak Allah, yang selalu baik dan menyenangkan bagi kita.

    Allah yang membimbing di jalan yang benar

    Allah yang memimbing di jalan yang benar (pelitaterang.com)

    Mazmur 23 adalah salah satu pasal dari Alkitab yang banyak membantu saya di masa-masa yang suram. Daud menulis Mazmur ini berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai seorang gembala yang bertaruh nyawa untuk melindungi domba-dombanya. Dia menaruh dirinya sebagai sebagai sosok domba yang lemah dan bergantung penuh pada si gembala untuk melewati lembah yang berbahaya. Domba yang tersesat dan terlepas dari kawanannya akan menemui kesulitan untuk bertahan hidup dan bisa mati di padang karena kelaparan, atau menjadi mangsa binatang buas.

    Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23:1-4 (TB)  

    Di dalam masalah dan kesulitan, Allah berjanji untuk membimbing kita di jalan yang benar menuju kepada air yang tenang. Sama seperti orangtua yang ingin membimbing anaknya menuju masa depan yang baik, jangan sampai tersesat dan terperosok makin jauh – Allah menginginkan hal yang sama untuk manusia!

    Gada dan tongkat Tuhan membimbing kita untuk tetap berada di jalan yang benar, dan di saat yang sama dipakai untuk menghalau bahaya jahat yang mengancam dari balik kegelapan. Ketika kita melihat Gembala kita siap dengan gada dan tongkatNya, kita merasakan sebuah ketenangan karena kita tahu kita tidak sendirian, dan ada sang Gembala yang melindungi kita dengan kekuatanNya yang tidak pernah gagal.

    Bagaimana kita datang kepada Bapa kita

    Butuh keberanian untuk datang kepada orangtua kita di saat kita sedang ada dalam masalah. Kita merasa mungkin mereka akan marah bila tahu kita terjebak dalam masalah yang adalah akibat dari kesalahan kita sendiri. Sama seperti itu kita sering tidak punya keberanian untuk datang mendekat kepada Allah Bapa kita karena kita merasa tidak pantas mendekat karena sudah melakukan kesalahan.

    Alasan lain mengapa anak sulit datang kepada orangtuanya adalah karena mereka merasa bisa mengatasi masalahnya sendiri. Tetapi bahkan bila kita pun ingin anak mandiri, kita orangtua tetap merasa ingin tahu bagaimana mereka menyelesaikan persoalannya. Jangan sampai kita tidak mau datang kepada Allah karena ingin menanggung masalah kita dengan kekuatan kita sendiri. Allah adalah Allah yang ingin memberikan kekuatanNya kepada kita supaya kita tidak capek sendirian.

    Berdoa adalah sebuah cara untuk datang secara langsung kepadaNya. Allah senang bila anakNya datang kepadaNya, baik menceritakan tentang hal-hal yang menyenangkan atau bila kita datang dengan kesusahan. Hanya ketika kita datang kepadaNya menyerahkan kesusahan kita di kakiNya, di situlah baru kekuatan dan kelegaan bisa dialirkan bagi kita dari surga.

    Firman Tuhan adalah Tongkat Gembala yang bagi kita sekarang ini. FirmanNya berisi bijaksana, petunjuk dan larangan yang bila kita turuti bisa memastikan bahwa kita berjalan di jalan yang benar. Berdoa dan membaca Firman Tuhan tampak seperti kewajiban yang biasa, tetapi bila dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh terbuka bagi pertolongan Tuhan, bisa memberikan kelegaan yang luar biasa di dalam masa kesesakan.

    Jangan takut untuk datang kepada Tuhan, Dia adalah Allah Bapa kita, yang ingin bersama-sama dengan kita di dalam setiap waktu, terutama ketika kita membutuhkan pertolonganNya.

  • Perubahan: Berubah Karena Cinta

    Perubahan: Berubah Karena Cinta

    Semua yang pernah jatuh cinta pasti pernah mengalami suatu perubahan di saat kita menaruh hati pada seseorang. Hidup yang awalnya kita jalani hanya untuk diri sendiri, sekarang dijalani bersama. Bukan hanya saya, saya dan saya lagi yang ada di dalam agenda kita. Tetapi saya dan dia, dia dan saya, atau kami.

    Perubahan ini bisa bersifat positif, bisa juga negatif – tergantung bagaimana orang yang kita cintai memberikan pengaruhnya kepada kita, dan sebaliknya. Selama menjalani suatu hubungan dengannya, keseharian kita berubah. Rutinitas kita berubah. Bahkan tujuan hidup kita berubah!

    perubahan

    Seperti kata lagu, jatuh cinta, berjuta rasanya – berjuta juga perubahannya. Itulah kuasa cinta seorang manusia di dalam kehidupan kita. Tetapi apakah anda tahu, bahwa di saat kita mengenal Kristus dan kuasa keselamatanNya, kita pun akan mengalami perubahan?

    Atau anda sudah mengenal Kristus, tetapi tidak melihat perubahan yang signifikan di dalam kehidupan anda? Perubahan macam apa yang bisa kita harapkan ketika kita memberikan diri kita untuk dijamah Tuhan? Perubahan apa saja yang bisa terjadi, dan bagaimana cara memperolehnya?

    Melalui tulisan ini, kita akan bersama-sama belajar mengenal cinta Tuhan, dan perubahan yang ditimbulkannya di dalam hidup kita. Perubahan dimulai oleh Tuhan sendiri, dikerjakan olehNya, dan pastinya akan diselesaikanNya juga. 

    Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

    ~Filipi 1: 6 (TB)

    Kristus yang memulai perubahan

    Berbeda dengan kisah cinta antara dua manusia di mana perasaan cinta kita bisa dimulai oleh saya atau dia, hubungan kita dengan Allah adalah suatu hubungan yang pasti dimulai dan diprakarsai oleh Allah sendiri.

    Allah Bapa sudah mengirim AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari cengkraman dosa dan memulihkan hubungan kita denganNya yang sudah patah akibat dosa. Dia menyatakan cintaNya kepada kita dengan cara mengorbankan diriNya sendiri – bahkan ketika kita belum mengenal Dia. Dia lah yang memulai kasih ini terlebih dahulu, bukan kita.

    perubahan

    Karena Allahlah sendiri yang lebih dahulu mengasihi kita, maka kita bisa memiliki kepastian kalau kasih ini tidak akan salah. Tidak akan ada harap-harap-cemas mempertanyakan apakah cinta kita bertepuk sebelah tangan. Kristus sudah memberikan sebuah garansi: tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang mau mati untuk sahabatnya!

    Kita bisa memegang jaminan ini, dan dengan keberanian dan iman menerima kasih Tuhan di dalam hidup kita dan memulai hubungan denganNya.

    Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

    ~1 Yohanes 4: 19 (TB)

    Kasih yang memiliki kekuatan

    “Cintamu membuatku berubah menjadi lebih baik,” begitu kata orang yang jatuh cinta. Apakah benar cinta membuat kita menjadi orang yang lebih baik? Bagaimana caranya?

    Penelitian mengatakan bahwa perubahan yang kita alami saat jatuh cinta itu adalah respon kita terhadap sikap dan perasaan yang diberikan seseorang kepada kita. Saat kita memiliki seorang guru yang memperhatikan, menolong dan percaya kepada kemampuan kita meskipun kita sendiri sedang ragu apakah kita bisa menjalani ujian atau tidak, kita akan terpacu untuk belajar sebaik-baiknya supaya bisa mencapai nilai yang terbaik.

    perubahan

    Seorang ayah yang mencurahkan waktu dan perhatian untuk anaknya akan membuat si anak merasa dirinya berharga. Si anak akan memiliki kepercayaan kepada ayahnya dan menurut kepada bimbingan yang diberikan si ayah kepadanya.

    Sebaliknya, kekurangan perhatian, diabaikan, atau selalu menerima kekerasan dari orang lain yang diharapkan dapat menjadi seorang pelindung dapat membuat seseorang berubah dari orang yang baik menjadi seorang yang memiliki perilaku yang serupa.

    Kalau cinta seorang manusia bisa mempengaruhi kita untuk melakukan perubahan di dalam hidup kita ke arah yang baik, betapakah lebih besarnya pengaruh cinta Tuhan di dalam hidup kita?

    Kasih Kristus bukanlah kasih biasa. Kasih Kristus memiliki kekuatan yang dapat menyelamatkan kita dari dosa kita, dan membawa hidup kita ke dalam kebenaranNya.

    Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

    ~2 Korintus 5: 17 (TB)

    Bersediakah anda berubah

    perubahan

    Kita bisa berubah, dan kita pasti berubah bila Yesus ada di dalam hidup kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita ingin berubah? Apakah kita rela melepaskan kehidupan kita yang lama dan meraih cinta Allah yang tersedia bagi kita?

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    ~Yohanes 3: 16 (TB)
  • Pelita Terang

    Pelita Terang

    Firman-Mu itu pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku

    (Mazmur 119: 105, TB).

    Kita membutuhkan terang

    Kami pernah mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah gua di kota kecil Valkenburg di Belanda. Dibangun di dalam sebuah perbukitan, gua ini sebenarnya adalah sebuah lorong besar dengan panjang hampir 5 kilometer.

    Gua ini sangat gelap, sama sekali tidak dimasuki sinar matahari. Tidak adanya sinar mentari yang masuk membuat gua ini sangat dingin. Hari itu suhunya sekitar 5 Celcius meskipun sebenarnya kami mengunjungi gua ini di musim panas. 

    Kegelapan di dalam gua sangatlah pekat. Kami tidak bisa melihat apapun juga kalau tidak ada sedikit lampu yang dibawa oleh sang pramuwisata.

    Kita butuh terang

    “Misi” kami waktu itu adalah berjalan dari satu pintu masuk gua menuju pintu keluar di sisi bukit yang lain. Dan juga menikmati keindahan ukiran dan peninggalan sejarah yang tertempel di dinding gua tersebut. 

    Tapi tanpa adanya seberkas cahaya, bisakah kami menjalani perjalanan tersebut? Kami bukan hanya akan segera tersesat dan hilang arah, tapi juga tidak bisa menyaksikan betapa indahnya lukisan dan peninggalan bersejarah di dalamnya.

    (gambar dari: Trip Advisor Castle Ruins Velvet Cave)
    Kita tidak menyadari pentingnya sebuah cahaya, sampai kita harus pergi ke tempat yang gelap gulita. (gambar dari: Trip Advisor Castle Ruins Velvet Cave)

    Di dalam kehidupan, kadang kita juga menghadapi saat di mana kita masuk ke lorong-lorong yang panjang dan gelap. Ke tempat di mana kita tidak tahu harus berjalan ke mana, dan tidak juga bisa menyaksikan ‘keindahan’ yang mungkin sebenarnya tersembunyi di dalam kondisi yang suram tersebut. Kita membutuhkan terang Tuhan untuk membimbing kita keluar dari kegelapan ini, dan juga untuk mampu mengerti kehendakNya di dalam hidup kita.

    Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadaNya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu kemana ia pergi.

    ~Yohanes 12: 35b (TB)

    Belajar dari Raja Daud

    Firman-Mu itu pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku.

    ~Mazmur 119: 105 (TB)

    Raja Daud adalah pemazmur yang menulis ayat ini. Selama bertahun-tahun ia harus bersembunyi di dalam gua-gua yang gelap ketika dia meloloskan diri dari ancaman Raja Saul yang ingin membunuhnya. Daud mengerti betul apa artinya tinggal di dalam kegelapan dan merindukan seberkas cahaya. 

    Selain harus menjalani hari-hari di dalam gua yang gelap, dia pun menghadapi banyak pergumulan akan apa yang harus dia lakukan setelahnya. Dia menghadapi bukan hanya kegelapan fisik, tetapi juga harus melalui masa yang gelap secara rohani.

    Bagaimana merespon Raja Saul yang hendak membunuhnya? Atau bagaimanakah Daud harus bertobat setelah dia sadar akan dosa-dosanya di dalam peristiwa dengan Batsyeba. Bagaimanakah dia harus bertindak di dalam begitu banyak persoalan di tengah keluarga dan anak-anaknya.

    Tetapi Daud menemukan semua jawaban atas pergumulannya di dalam Tuhan dan FirmanNya. Daud adalah seorang yang menggantungkan dirinya secara penuh kepada Tuhan. Alkitab mencatat Daud sebagai “A man after God’s own heart,” yaitu seorang yang berkenan di hati Allah. Daud mendapatkan julukan ini karena dia turut pada Firman Allah di setiap langkahnya, dan menggunakan Firman ini untuk mengarahkan segala tindakannya.

    Kita pun bisa seperti Daud. Di dalam perjalan hidup yang terkadang diizinkan Allah untuk melewati tempat yang gelap, kita pun bisa menggunakan Firman-Nya sebagai penerang di dalam langkah hidup kita.

    Berpegang kepada Firman sebagai pemberi terang

    Mungkin akan muncul pertanyaan; tetapi bagaimana caranya? Saya kok sering baca Alkitab tapi tidak merasa apapun? 

    Atau saya tiap Minggu ke gereja dan tidak mengalami perubahan yang signifikan? Hidup saya tetap susah, masalah saya tetap ada, pergumulan saya tidak hilang?

    Firman Pemberi Terang

    Mazmur yang indah ini tidak berhenti di sini. Daud meneruskan nyanyiannya dengan berkata di ayat selanjutnya: 

    Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya; untuk berpegang pada hukum-hukum- Mu yang adil.

    ~Mazmur 119: 106 (TB)

    Konsisten membaca, merenungkan dan melakukan Firman

    Kita membutuhkan konsistensi di dalam mempelajari dan melaksanakan Firman Tuhan. Baik di saat kehidupan terasa tenang, ataupun di masa yang berat. Hanya dengan cara itulah Firman ini bekerja dan mengarahkan hidup kita di dalam rencana yang Tuhan sediakan bagi kita.

    Mempelajari Firman Tuhan adalah perjalanan seumur hidup. Alkitab memiliki pesan yang begitu dalam sehingga kita tidak bisa memahaminya di dalam satu hari saja. Sesungguhnya untuk itulah kita ada; mendalami FirmanNya, belajar mengenalTuhan, dan menjadi semakin seperti Dia.

    Mari membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan

    Untuk itu, kita perlu bukan hanya membaca, tapi juga mempelajari Firman Tuhan: merenungkan apa saja aplikasi Firman ini di dalam kehidupan anda dan saya pada hari ini.

    Kami penulis Pelita dan Terang, berharap untuk dapat berbagi kasih Tuhan dan FirmanNya yang adalah terang bersama pembaca sekalian. Untuk belajar Firman Tuhan dan merenungkannya bersama para saudara terkasih di sini. 

    Mari kita gunakan Firman yang sudah diberikan Tuhan kepada kita di dalam Alkitab, menjadi pelita, menjadi terang bagi jalan kehidupan kita.

    Tuhan memberkati kita semua. Amin.