Category: Renungan

  • Bertobatlah! Mengapakah kamu akan mati?

    Bertobatlah! Mengapakah kamu akan mati?

    Banyak orang yang melihat Alkitab Perjanjian Lama sebagai bagian yang gelap karena di dalamnya ada banyak cerita tentang kerasnya hukuman Allah terhadap manusia berdosa. Di dalam kitab para Nabi kita juga dapat menemukan puluhan bahkan ratusan kali peringatan yang keras kepada bangsa Israel, bahwa bila mereka tidak bertobat, Allah akan menghukum mereka dengan kedahsyatan murka-Nya

    Sebagian orang melihat Allah di dalam Perjanjian Lama sebagai Allah yang pemarah dan tidak toleran. Tetapi bila kita mencermatinya, bila kita benar-benar membaca setiap pasal dan setiap ayatnya, sesungguhnya kita akan melihat bahwa Allah yang dicatat di Perjanjian Lama adalah Allah yang penuh dengan kasih dan kesetiaan, persis sama seperti Allah yang dengan kasih-Nya yang besar mengirimkan Anak-Nya yang tunggal yang dicatat di Perjanjian Baru.

    Kejahatan Manusia

    Perjanjian Lama mencatat betapa dahsyatnya dosa manusia, betapa kelamnya kejahatan yang dilakukan bangsa-bangsa, termasuk bangsa Israel. Dimulai dari kitab Kejadian di mana air bah datang, lalu kehancuran Sodom dan Gomora, kehancuran bangsa-bangsa Kanaan dan sampai kejatuhan bangsa Israel sendiri.

    Betapa dahsyatnya kejahatan manusia saat itu! Mereka melakukan dosa perzinahan melalui perilaku seksual yang menyimpang, mereka menyakiti bahkan membunuh anggota keluarganya, mereka membunuh anak-anak mereka dan mempersembahkannya sebagai korban bagi para berhala, mereka bahkan melakukan penyembahan kepada berhala-berhala mereka di dalam Bait Allah yang kudus!

    Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

    Roma 3:23 (TB)

    Hal ini dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, tetapi juga oleh bangsa pilihan Allah. Bangsa Israel adalah bangsa di mana Allah sendiri ingin berdiam di tengah-tengah merek. Mereka sudah menyaksikan kebaikan, kesetiaan dan kekuatan Allah ketika menyelamatkan mereka dari perbudakan dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Tetapi mereka melupakan semuanya itu dan berpaling kepada allah-allah lain.

    Kesabaran Allah di dalam peringatan-Nya

    Kita tidak boleh lupa, bahwa sebelum Allah menjatuhkan hukuman atas kejahatan umat manusia, Allah sebelumnya telah berulang-ulang kali memberikan peringatan-Nya kepada mereka. Nuh membangun bahteranya selama kurang lebih 100 tahun, dan selama itulah hidupnya menjadi kesaksian kepada orang-orang di sekitarnya tentang hidup yang berkenan kepada Allah.

    Abraham dan Lot hidup berdekatan dengan penduduk Sodom dan Gomora. Di sana mereka pun menjadi kesaksian tentang hidup yang diberkati oleh Allah. Bahkan Abraham bertawar-tawaran dengan Allah untuk menyelamatkan Sodom dan Gomora, tapi Alkitab mencatat bahwa tidak sampai 10 orang benar yang dapat ditemukan dari seluruh kota itu.

    Kepada bangsa Israel, Allah mengirimkan belasan Nabi, yang memberikan puluhan bahkan ratusan peringatan yang keras supaya bangsa Israel meninggalkan kejahatan mereka dan berbalik kepada Allah. Begitu banyaknya peringatan yang bisa kita temukan di dalam Perjanjian Lama, sampai-sampai kita mungkin melihat Allah sebagai Allah yang suka mengancam.

    Tetapi sebanyak peringatan yang Ia berikan kepada manusia, sebanyak itulah kesempatan yang diberikan-Nya bagi mereka untuk bertobat. Seperti seorang ayah atau ibu yang berulang kali memperingatkan anak-anaknya dan tidak langsung menghukum mereka, seperti itu Allah selalu memperingatkan umat-Nya. 

    Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

    2 Petrus 3:9 (TB) 

    Allah yang ingin menyelamatkan manusia

    Allah adalah Allah yang kudus dan kekudusan-Nya tidak bisa ditawar-tawar. Dia tidak bisa membiarkan manusia terus hidup di dalam dosa. Tetapi Allah tidak bergembira di dalam menghukum umat-Nya. Dia tidak menginginkan kebinasaan mereka!

    Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?

    Yehezkiel 18:23 (TB)

    Dari ayat-ayat ini lah kita bisa menyaksikan betapa hati Allah berduka melihat kejahatan manusia dan betapa Ia menginginkan mereka bertobat. Maut adalah upah dari dosa dan tidak ada kompromi tentangnya. Tetapi demikian, sekali lagi, Allah adalah Allah yang ingin menyelamatkan manusia. Dia tidak bergembira atas kematian orang-orang fasik, Dia ingin menyelamatkan mereka.

    Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

    Yehezkiel 33:11 (TB)

    Yesus sebagai puncak keselamatan

    Dan sebagai puncak dari karya keselamatan yang sejak awal sudah dirancang Allah untuk manusia, Dia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus untuk datang ke dunia.

    Bukan seperti para Nabi yang datang hanya untuk meneruskan Firman dari Allah kepada manusia, Yesus datang sebagai korban penebusan bagi manusia! Ia datang sebagai jalan keluar yang final, jalan keluar yang sejati, sebagai keselamatan yang sudah dinantikan dari jaman ke jaman.

    Allah adalah Allah yang kudus dan kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah hanya bila kita memiliki kekudusan yang sama. Tidak ada satupun dari kita yang mampu menguduskan diri kita sendiri, karena begitu kuatnya dosa yang mengikat kita.

    Kita semua adalah manusia yang pasti memiliki dosa dan sebenarnya mautlah bagian kita. Tetapi Yesus datang untuk membebaskan kita dari kematian, Ia datang untuk membebaskan kita dari hukuman!

    Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

    Roma 6:23 (TB)

    Kasih Allah yang selama ini ditunjukkan melalui seringnya Dia memberikan peringatan kepada manusia, digenapkan dengan mengorbankan Anak-Nya sendiri menjadi korban, menjadi tebusan bagi umat manusia. Adakah cinta yang lebih besar dari itu? 

    Dia bukan orangtua yang give up ketika melihat anak-anaknya terus tidak taat meskipun sudah ratusan kali diperingatkan. Malahan Dia sendiri yang datang dan menanggung hukuman yang sebenarnya adalah bagian kita.

    Yesus masih relevan sampai sekarang

    Bagaimana dengan kehidupan manusia di masa kini? Sekarang ada begitu banyak dosa dan kejahatan yang mulai dilihat sebagai hal yang normal dan harus diterima atas dasar hak asasi manusia.

    Homoseksualitas, LBGT, pergantian gender adalah hal yang sudah normal di dalam banyak negara. Bahkan hak-hak orang yang melakukannya dilindungi secara hukum. Perzinahan, ketidaksetiaan dalam pernikahan, seks bebas menjadi semakin biasa dan tidak tabu lagi.

    Manusia berbohong dengan ringan, dengan dalih sedang membuat prank. Pornografi bisa diakses begitu mudah. Dan kemuliaan diri adalah hal yang dikejar oleh banyak orang. Kita berlomba untuk tampil sempurna melalui sosial media, untuk memperlihatkan betapa agung dan hebatnya diri kita.

    Di mana posisi Allah dan di mana kekudusan-Nya di dalam kehidupan manusia saat ini? Orang-orang yang ingin hidup kudus dan bergaul erat dengan Kristus dianggap ketinggalan jaman. Orang-orang yang membenci dosa dianggap melanggar hak asasi manusia.

    Dunia di mana kita hidup sekarang ini membutuhkan Yesus, sama seperti dunia yang dicatat di Perjanjian Lama. Peringatan akan hukuman Allah dan kedahsyatan murkanya atas orang-orang yang ingin terus hidup di dalam dosa masih berlaku sampai sekarang, karena Allah tidak dapat mengingkari kekudusan-Nya.

    Panggilan untuk bertobat –  yang dulu disuarakan oleh para Nabi di zaman Perjanjian Lama dan para Rasul di zaman Perjanjian Baru, masih relevan sampai sekarang. Kita harus bertobat, dan harus memberitakan tentang Kristus yang menunggu manusia untuk datang kepada-Nya.

    Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

    Yesaya 55:7 (TB) 

    Kiranya di hari Paskah ini, kita bisa lebih dalam memaknai kedatangan-Nya. Dan bisa memahami betapa besar dan dalamnya kasih Allah kepada kita.

    Mengapakah kita harus binasa? Lihatlah, Allah ingin menyelamatkan seluruh manusia, marilah kita merespon kasih-Nya dan meneruskan pemberitaan tentang-Nya kepada sesama kita. Amin.

  • Mengampuni Orang Lain: Berdamai dengan Tuhan

    Mengampuni Orang Lain: Berdamai dengan Tuhan

    Bukan hanya sekali, ketika saya sedang memiliki masalah dengan seseorang dan menceritakan hal itu kepada Ibu saya, beliau mengatakan kalimat ini: “Kalau kamu punya masalah dengan seseorang, itu berarti kamu punya masalah dengan Tuhan.”

    Tentu saja saya menjadi semakin marah mendengarkan komentar itu. Jelas-jelas si orang lain itu yang bersalah, kok ya jadi saya yang punya masalah dengan Tuhan?? Saya pun protes dengan keras, dan ibu saya tetap dengan tenang menjawab, “Kalau kamu punya masalah dengan orang lain, berdoalah.”

    Butuh bertahun-tahun untuk mengerti kalimat-kalimat ini. Bagaimana mungkin bila orang bersalah kepada kita dan kita menjadi marah karenanya – hal itu berarti kita sedang memiliki masalah dengan Tuhan?

    Hamba yang tidak bersyukur

    Matius 18:32-33 TB

    Hallo Sahabat Pelita Terang! Minggu lalu kita bersama-sama merenung tentang memaafkan dan mengampuni. Mengapa kita harus mengampuni? Kita mengampuni karena kita adalah anak-anak Tuhan, yang diciptakan menurut gambaran dan sifat-sifat-Nya. Orang yang sudah bertobat harus kembali kepada gambaran itu, dan Allah yang pengampun merupakan satu gambaran untuk kita tiru.

    Salah satu cerita tentang pengampunan yang terkenal di Alkitab adalah perumpamaan yang dikatakan Yesus tentang seorang hamba yang dihapuskan hutangnya tapi tidak mau mengampuni saudaranya.

    Hamba ini memiliki hutang sebesar sepuluh ribu talenta dan tidak mampu membayarkan hutangnya. Sebagai hukuman, sang raja memerintahkan untuk menjual hamba ini beserta istri dan anaknya untuk membayar hutang itu. Hamba ini sujud dan memohon belas kasihan dari tuannya. Dia meminta kesabaran dari raja, meminta tambahan waktu untuk melunaskan hutangnya yang banyak itu. Sang raja pun tergerak dengan belas kasihan dan mengampuni si hamba. Bukan saja si hamba ini dibebaskan, semua hutangnya dihapus juga!

    Sepulang dari istana raja, si hamba ini bertemu dengan temannya yang berhutang seratus dinar – sebuah jumlah yang jauh lebih kecil dari hutang 10.000 talenta yang sudah dihapus oleh sang raja. Segera dia mencekik temannya ini, menangkap dan menjebloskannya ke penjara. Semua karena urusan 100 dinar yang tidak dapat dibayar oleh teman itu!

    Sang raja mendengar berita ini dan menjadi marah. Katanya:

    Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
    Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

    Matius 18:32-33 (TB) 

    Kemarahan Tuhan atas hamba yang tidak mau mengampuni 

    Matius 18:34-35 TB

    Pada saat orang lain bersalah kepada kita – dan kebetulan kita memang tidak bersalah kepada mereka, adalah sangat wajar untuk melupakan posisi kita sebagai orang yang juga berdosa. Tetapi dari cerita di atas kita melihat bahwa Tuhan bukan saja tidak setuju dengan tindakan si hamba yang sudah dihapuskan hutangnya. Tapi Tuhan menjadi marah dan murka!

    Mengapa Tuhan marah kepada hamba tersebut? Hamba ini sudah dihapuskan hutangnya. Dia sudah menjadi orang yang bebas dan merdeka – orang yang tidak punya hutang lagi, bahkan tidak menjadi orang hukuman lagi yang harus dipenjara karena tidak mampu melunaskan hutangnya yang sebenarnya tidak akan mampu dia lunasi sampai kapanpun juga.

    Tapi si hamba ini lupa, bahwa statusnya sebagai orang merdeka bukanlah datang dari jerih payahnya! Uang sebesar 10.000 dinar itu bukan hasil pekerjaannya, tetapi merupakan belas kasihan, merupakan pemberian kasih karunia.

    Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
    Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

    Matius 18:34-35 (TB) 

    Mengampuni kesalahan orang lain adalah sebuah perintah dari Tuhan; sebuah syarat dan tuntutan dan bukannya hanya sebagai pilihan, saran, atau sekedar usulan. Berulang-ulang kita mendengarkan perintah di dalam Alkitab: jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.

    Kata jika menunjukkan hal ini adalah sebuah keharusan! Ketika kita sedang marah terhadap seseorang, kita tidak menerima saran dari Tuhan seperti: “Ya… maafkanlah dia, lebih baik memaafkan biar kamu tenang dan nggak darah tinggi.” Tidak! Firman Tuhan dengan jelas, tegas dan berulang-ulang mengatakan bahwa kita harus memaafkan orang lain sebagai bagian dari penerimaan kita terhadap pengampunan Allah kepada dosa-dosa kita.

    Matius 6:14-15 TB

    Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
    Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

    Matius 6:14-15 (TB) 

    Kemarahan yang tidak kudus

    Matius 5:22 TB

    Sering sekali kita tidak mampu mengampuni kesalahan orang lain karena kita merasa sudah melakukan kebenaran. Kita memang hidup di dalam dunia yang sudah rusak, orang-orang bisa melakukan apa saja yang merugikan kita, bahkan melakukan hal-hal yang memang melanggar Firman Tuhan dan menyakiti perasaan kita.

    Namun kita harus sadar, mempertahankan kebenaran kita dan mempertahankan rasa marah sampai tidak mampu mengampuni juga adalah sebuah kejahatan di mata Tuhan. Kebenaran kita tidaklah menjadi kebenaran lagi ketika itu membuat kita tidak mampu mengasihi. Sebaliknya rasa bahwa saya benar ini sudah dipakai oleh si jahat untuk menguasai hati kita.

    Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

    Matius 5:22 (TB) 

    Bukan lagi Kristus yang memerintah di hati kita, tetapi AKU dan KebenaranKU dan rasa marahku. Inilah sebuah bentuk perseteruan dengan Allah – karena kita tidak lagi menyerahkan seluruh hati kita untuk kuasai oleh-Nya.

    Ketaatan adalah persembahan terbaik bagi Tuhan

    1 Samuel 15:22 TB

    Sebagai anak Tuhan, kita rindu untuk memberikan persembahan yang terbaik untuk-Nya. Kita melakukan pelayanan di gereja, atau memberikan persembahan atau perpuluhan. Tapi apakah sebenarnya yang Tuhan inginkan?

    Pada saat Samuel menegur Saul yang tidak memusnahkan bangsa Amalek secara total dan malah menyimpan binatang-binatang yang baik dengan dalih dia melakukannya untuk dipersembahkan untuk Tuhan, Samuel menegur Saul:

    Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. 

    1 Samuel 15:22 (TB) 

    Allah menginginkan totalitas hati kita di dalam mengikuti kehendak-Nya. Termasuk di dalam mengampuni orang lain dan memiliki belas kasihan kepada sesama kita. Melakukan kehendak Tuhan, memiliki hati yang penuh kasih – itulah persembahan yang terbaik yang Tuhan inginkan dari kita sebagai umat-Nya.

    Matius 9:13 TB

    Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

    Matius 9:13 (TB) 

    Haruskah menunggu orang meminta maaf terlebih dahulu?

    Markus 11:25 TB

    Lalu bagaimana dengan orang-orang yang bersalah kepada kita tapi belum meminta maaf? Haruskah kita mengampuni kesalahan mereka? Apakah yang harus kita lakukan sebagai orang percaya?

    Saya percaya bahwa Tuhan mengutus kita menjadi orang-orang yang aktif, baik di dalam mengasihi, maupun juga dalam mengampuni dan memperbaiki sebuah relasi. Tuhan memerintahkan kita untuk pergi dan membereskan hubungan kita dengan orang lain. 

    Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

    Markus 11:25 (TB)
    Matius 5:23-24 TB

    Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
    tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

    Matius 5:23-24 (TB) 

    Tidak semua relasi bisa dengan mudah dipulihkan. Terkadang kita memang tidak bisa langsung mendatangi seseorang dan berdamai dengan seseorang karena dia masih terlalu emosi dengan kita. Tapi adalah tugas kita untuk mengambil inisiatif membereskan hubungan kita dengan orang tersebut pertama-tama dengan Tuhan.

    Minta Tuhan untuk memampukan kita untuk mengampuni mereka secara sungguh-sungguh. Minta Tuhan untuk membereskan emosi kita yang berantakan dan mengisi hati kita dengan damai sejahtera-Nya. Minta Tuhan untuk menguasai seluruh hati kita sampai tidak ada lagi rasa marah yang tersisa. Dan minta Tuhan memberikan kita jalan untuk dapat secara langsung membereskan hubungan dengan orang tersebut.

    Mungkin inilah yang dimaksudkan Ibu ketika ia menasehati saya. Karena sesungguhnya, melalui pengampunan terhadap orang yang bersalah kepada orang lain, kita memulihkan hubungan kita dengan Allah dan menemukan pendamaian dengan Dia juga. 

    Tuhan memberkati dan memampukan kita semua untuk mengasihi dan mengampuni. Amin.

    @pelitadanterang
    Follow instagram @pelitadanterang
  • Memaafkan dan Mengampuni

    Memaafkan dan Mengampuni

    Saya minta maaf. Kalimat ini adalah kalimat singkat yang sederhana namun sangat sulit untuk diucapkan. Apalagi kalau harus diucapkan sungguh-sungguh dari dalam hati.

    Beberapa waktu lalu saya sempat bersitegang dengan seorang teman – kami berdua memiliki pendapat yang berbeda tentang suatu hal. Bukan masalah besar, tapi toh suasana jadi agak tegang karena kedua belah pihak ngotot bahwa pendapatnya lah yang benar.

    Namun melalui sebuah buku saya diingatkan: hidup ini bukan kompetisi. Hidup bukanlah soal siapa yang benar atau salah. Kita tidak perlu merusak hubungan dengan orang lain hanya untuk mempertahankan posisi kebenaran pendapat. Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran, terlepas bahwa orang lain mengakuinya atau tidak. Dan memiliki hubungan yang rusak akan membawa pengaruh buruk, baik untuk orang lain maupun diri sendiri.

    Hal ini membuat saya merenung. Sebagai anak Tuhan, mengapakah saya begitu worked up hanya untuk mempertahankan kebenaran pendapat saya? Di mana peran saya untuk membawa damai kepada dunia yang belum mengenal Dia? 

    Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! 

    Roma 12:18 (TB) 

    Setelah lama berpikir dan berdoa, saya putuskan mengirimkan pesan minta maaf kepada teman ini. Setelah itu hati saya terasa ringan dan lega, saya tidak lagi sensitif dan lelah menganalisa setiap perkataan teman saya. Hubungan dan pekerjaan kami bisa dilanjutkan tanpa rasa saling curiga. Memang benar, minta maaf dan memaafkan membawa kebaikan buat semua orang, termasuk untuk diri sendiri.

    Meminta maaf dan memaafkan

    Di antara dua hal ini, yang manakah yang menurut Sahabat lebih sulit dilakukan? Meminta maaf, atau memaafkan? Harga diri sering membuat kita sulit untuk meminta maaf, apalagi kalau kita merasa tidak bersalah, atau merasa bahwa pihak lain lebih besar kesalahannya dibandingkan kita.

    Di sisi lain, memaafkan atau mengampuni juga membutuhkan sebuah kerendahan hati. Kita juga membutuhkan sebuah kebesaran hati dan rasa percaya untuk dapat mengampuni orang lain.

    Di dalam hal hubungan kita dengan orang lain, Alkitab berulang kali menyerukan perintah bagi kita untuk mengampuni kesalahan orang lain. Tuhan tahu bahwa mengampuni itu adalah sesuatu yang tidak mudah, namun Tuhan ingin kita menjadi serupa dengan Dia, untuk memiliki sikap yang serupa dengan sikap-Nya: penuh kasih dan pengampunan.

    Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: ”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

    Matius 18:21-22 (TB)

    Tidak mampu mengampuni karena takut tersakiti

    Ada banyak alasan mengapa tidak mudah untuk mengampuni orang lain. Sering sekali, seseorang tidak mampu mengampuni karena takut untuk terluka lagi. Terutama kepada orang yang kelihatannya tidak berubah dan mungkin akan terus menyakiti kita, sangat sulit untuk memaafkan mereka.

    Adalah wajar untuk memiliki kekuatiran semacam ini. Tetapi sebagai orang percaya, kita harus lebih bergantung pada kekuatan Tuhan untuk memulihkan hati kita yang terluka, dibanding bergantung kepada kemampuan seseorang untuk menjaga perasaan kita.

    Tidak ada orang yang begitu sempurna dan tidak pernah mengecewakan kita. Tetapi di dalam Tuhan, ada jaminan yang teguh bahwa di dalam kelelahan kita menghadapi seseorang, bila kita meminta pertolongan Tuhan, Dia akan memberikan kepada kita kekuatan setiap kali kekuatan yang baru.

    Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 
    Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 

    Mazmur 62:5-6 (TB) 

    Tidak mampu mengampuni karena harga diri 

    Hal lain yang membuat kita sulit mengampuni adalah masalah ego dan harga diri. Terkadang seseorang takut terlihat sebagai pihak yang lemah bila ia dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Atau ada perasaan ingin diakui bahwa saya lah yang benar, bukan dia.

    Di dalam saat seperti ini, sangat mudah untuk jatuh ke dalam pikiran bahwa “AKU” harus ditinggikan. Aku harus ‘menang’ di dalam kompetisi pendapat ini – seperti pengalaman saya di atas tadi. Tapi sebenarnya, bukankah hanya Kristus yang harus kita tinggikan di dalam setiap pengalaman kita? 

    Kita tidak perlu kuatir untuk kehilangan harga diri bila kita meminta maaf atau bila kita mengampuni orang lain. Karena Tuhan tidak menganggap rendah umat-Nya yang mau merendahkan diri demi menjalankan perintah kasih-Nya.

    Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

    Matius 23:12 (TB)

    Tidak mampu mengampuni karena terlalu marah

    Bukan hanya satu kali saya merasa terlalu marah sampai-sampai saya merasa tidak mampu mengampuni. Saya bukan tidak mau, tapi saya tidak mampu! Begitu alasan yang paling sering dikeluarkan untuk membenarkan kemarahan saya.

    Pada waktu Kain kesal karena korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan, hatinya menjadi panas dan mukanya muram. Kain begitu dipenuhi oleh kemarahan dan dia merasa tidak mampu mengendalikan kemarahannya lagi. Tapi Tuhan datang kepadanya dan berkata bahwa dia harus mengendalikan kemarahannya.

    Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 
    Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

    Kejadian 4:6-7 (TB) 

    Kita harus menjadi pengendali dari perasaan kita – dan bukannya dikendalikan oleh perasaan itu. We are the boss of our anger! Jangan pernah tertipu dengan pikiran bahwa kita tidak mampu untuk berhenti marah – kita pasti mampu asalkan kita meminta pertolongan-Nya.

    Mengapa kita harus mengampuni

    Alkitab mencatat banyak alasan mengapa kita harus saling mengampuni, mengapa kita harus hidup di dalam keadaan damai dengan sesama kita. Bahkan di Doa Bapa Kami yang kita ucapkan setiap minggu di gereja, terdapat pernyataan bahwa di dalam permohonan kita untuk meminta pengampunan dari Tuhan, kita sudah terlebih dahulu mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita.

    dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

    Matius 6:12 (TB)

    Pengampunan sebagai gambaran identitas kita

    Kita manusia diciptakan di dalam gambaran Allah – diciptakan sesuai dengan sifat dan karakter-Nya. Karena itu, begitu kita sudah menerima keselamatan dari Allah, adalah bagian kita untuk bertumbuh semakin serupa dengan Dia yang menciptakan kita.

    Kasih dan pengampunan adalah karakter Allah yang paling penting! Dengan Kasih itulah Kristus merelakan segalanya dan turun ke dalam dunia untuk mengampuni segala dosa-dosa kita. Bagaimanakah kita dapat mengatakan kita adalah pengikut Tuhan, bila Tuhan dan Raja kita adalah sosok yang mau merendahkan diri dan mengampuni, tetapi kita tidak mau mengampuni orang lain?

    Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

    Kolose 3:13 (TB) 

    Pengampunan membawa kebaikan

    Mengampuni, saling memaafkan membuat kita memiliki hubungan yang baik dengan sesama dan juga dengan Tuhan. Tuhan senang dan berkenan kepada anak-anakNya yang hidup berdampingan dengan damai.

    Damai ini bukanlah sekedar perintah agama. Damai ini adalah sesuatu yang kita butuhkan agar kehidupan kita berjalan dengan baik. Surat Yakobus mengatakan: pengakuan dosa dan saling mendoakan membawa kesembuhan.

    Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

    Yakobus 5:16 (TB) 

    Saling memaafkan membuat pikiran kita tenang. Pikiran kita tidak dipenuhi dengan kekesalan atau kemarahan kepada orang lain. Sebaliknya hati kita diisi dengan kegembiraan dan sukacita yang membuat baik tubuh maupun jiwa kita menjadi sehat dan tenang.

    Penutup

    Pengampunan adalah pemberian Tuhan yang paling besar untuk hidup kita dan kita adalah umat yang mencerminkan Dia. Mari kita mengikuti teladan Kristus, rela merendahkan diri dan saling mengampuni. Amin.

  • Tuhan Kita Baik

    Tuhan Kita Baik

    “Apa kabar, Mbak?” Tanya saya kepada seorang teman di melalui pesan telepon. Teman saya ini baru sakit, seminggu yang lalu sempat dirawat di rumah sakit. Dia masih dalam masa pemulihan dan belum sepenuhnya fit kembali. Waktu saya bilang semoga semakin hari semakin sehat, dia menjawab: “Ya de, Tuhan kita baik.”

    Jawaban ini membuat saya lama merenung. Tuhan kita baik. Bagaimana orang yang sedang mengalami kesulitan mengatakan bahwa Tuhan itu baik? Apakah benar Tuhan itu baik? Apakah kita bisa melihat bahwa Dia itu baik?

    Kalau Tuhan itu baik, mengapa ada begitu banyak penderitaan?

    Ini adalah pertanyaan semua orang dan argumen populer ketika orang yang belum percaya mendengar cerita tentang Tuhan dan kebaikan-Nya. Iya juga ya, kalau memang Dia baik, mengapa kita sakit? Mengapa kita mengalami banyak kesulitan?

    Dunia yang kita hidupi ini bukanlah dunia yang sempurna seperti dunia yang Tuhan ciptakan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Dosa yang dimulai oleh manusia pertama membawa konsekuensi yang efeknya kita alami sampai hari ini. Kita hidup di dalam dunia yang sudah rusak, kita hidup sebagai manusia yang sudah rusak, dan kita hidup bersama sesama kita yang juga tidak lagi sempurna sebagaimana Allah menciptakan manusia pada awalnya.

    Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

    Roma 3:23 (TB) 

    Semua hal ini membuat kita tidak bisa berpaling daripada penderitaan, sakit-penyakit, pengkhianatan, perasaan terluka, perang, dan lain sebagainya. Inilah realita kita yang memang ada sampai Tuhan datang kembali untuk kedua kalinya dan mengukuhkan Tahta-Nya.

    Kita sudah selamat, namun masih di perjalanan

    Apakah Allah tidak peduli dengan manusia yang Dia ciptakan? Apakah Tuhan membiarkan ciptaan-Nya menderita? Tidak! Sama sekali tidak! Tuhan tidak tinggal diam. Sejak awal manusia jatuh dalam dosa, Ia sudah membuat sebuah Rencana Keselamatan yang besar bagi manusia.

    Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa semua orang, sehingga bila kita percaya kepada-Nya, kita tidak akan binasa. Tetapi Tuhan mengizinkan kita melalui sebuah proses untuk bisa dibentuk oleh-Nya. Kematian dan kebangkitannya 2000 tahun lalu tidak serta merta membawa manusia kembali ke Taman Eden. Kita masih harus menjalani kehidupan di dunia ini sampai waktu-Nya tiba.

    Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

    1 Korintus 13:12 (TB) 

    Keadaan manusia berdosa ibarat sebuah kapal besar berada di tengah samudera luas yang mengalami badai besar. Orang-orang menjerit meminta pertolongan, putus asa karena ingin tetap hidup sementara kapal sudah hampir karam.

    Lalu datanglah sebuah kapal yang memberikan pertolongan. Siapa mau selamat, diundang masuk ke dalam kapal ini. Tetapi tidak semua orang mau masuk ke sana. Ada yang ragu apakah kapal ini memang bisa menyelamatkan mereka dari bahaya, mungkin kapal ini buruk fisiknya, mungkin tidak terlalu meyakinkan penampilannya.

    Sebagian orang menerima pertolongan ini dan masuk ke dalam kapal penyelamat itu. Mereka sangat lega karena sudah selamat! Tapi beberapa orang mulai sadar bahwa perjalanan ke daratan ternyata panjang dan kapal penyelamat ini tidak senyaman yang mereka bayangkan dan inginkan. Orang-orang ini mulai mengeluh mengapa tidak ada kamar tidur dan makanan yang mewah, mengapa ada rasa dingin, mengapa masih susah padahal sudah diselamatkan?

    Kita dikuduskan dan dibentuk melalui kesulitan

    Kehidupan manusia yang terjerat dalam dosa dan menerima pembebasan digambarkan di Alkitab dalam perjalanan bangsa Israel. Bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari tangan Mesir yang menekan dengan kuat – dan bagaimana bangsa Israel tidak langsung percaya. Bahkan setelah diselamatkan terus hidup mengeluh sampai-sampai seluruh angkatan yang keluar dari Tanah Mesir tidak diizinkan Allah untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian.

    Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 

    Ulangan 8:2 (TB)

    Allah membiarkan bangsa Israel berjalan melalui jalur yang berputar selama empat puluh tahun, padahal ada jalan lain yang lebih singkat. Hal ini dilakukan karena Ia ingin mengajarkan Firman dan perintah-Nya. Ia ingin bangsa Israel mengasihi Dia dan hidup menurut kehendak-Nya.

    Lebih dari 400 tahun bangsa Israel diam sebagai budak di tanah Mesir. Mereka sudah tidak lagi mengenal Allah yang benar dan sejati. Mereka perlu menjalani sebuah masa di mana mereka bisa mengenal Allah dan segala kuasa-Nya.

    Sama seperti itu juga, kita tidak serta merta dibawa Tuhan kembali ke surga setelah kita diselamatkan. Orang percaya dibawa-Nya melalui sebuah proses, supaya kita pun bisa belajar bagaimana menjadi anak-anak Allah yang hidup.

    Kesulitan hidup, penderitaan, sakit penyakit merupakan saat di mana kita melihat kehadiran Allah dan kuasa-Nya di dalam kehidupan kita. Kita belajar untuk menggantungkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Setiap langkah kita belajar untuk menjadi semakin mirip dengan Kristus.

    Allah selalu dekat dengan kita

    Selama 40 tahun di padang gurun, Allah selalu hadir di dalam kehidupan bangsa Israel. Tiang awan di waktu siang dan tiang api di waktu malam menjadi bukti atas kehadiran-Nya. Selama itu bangsa Israel tidak kekurangan makanan. Pakaian dan kasut mereka tidak rusak padahal dikenakan selama puluhan tahun! (Ulangan 29: 5)

    Begitu juga sekarang, meskipun kita menjalani perjalanan yang berat dan panjang dan terkadang ada kesulitan, meskipun kita belum sampai kepada kemuliaan yang indah, tapi kita tahu bahwa Allah sedang ada bersama-sama dengan kita. Sedetikpun Dia tidak meninggalkan kita! Pertolongan-Nya selalu ada di waktu yang tepat bagi kita.

    Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

    Ulangan 31:6 (TB)

    Dulu, bangsa Israel bisa melihat kehadiran Allah di dalam bentuk tiang awan dan tiang api dengan mata kepala mereka sendiri. Tapi ternyata lambang kehadiran-Nya yang suci seringkali tidak diindahkan oleh mereka.

    Kita yang hidup di zaman ini sangatlah beruntung. Sebelum Kristus datang ke dunia, manusia belum mendapatkan Firman-Nya secara lengkap, keselamatan masih berupa janji yang belum terwujud. Tapi sekarang kita adalah umat yang sudah merdeka! Dan kita memiliki Alkitab yang lengkap untuk membimbing kita di dalam setiap langkah kita di kehidupan ini.

    Tuhan baik, Kasih Setia-Nya ada selamanya

    Ketika bangsa Israel pulang dari Babel dan kembali ke Yerusalem, mereka membangun kembali Bait Suci yang sudah diruntuhkan. Pada saat dasar Bait Suci diletakkan oleh tukang-tukang bangunan, para imam dan orang Lewi mulai memuji-muji Tuhan, katanya

    Secara berbalas-balasan mereka menyanyikan bagi TUHAN nyanyian pujian dan syukur: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya kepada Israel!” Dan seluruh umat bersorak-sorai dengan nyaring sambil memuji-muji TUHAN, oleh karena dasar rumah TUHAN telah diletakkan.  

    Ezra 3:11 (TB)

    Bait Allah belum lagi selesai, bangsa Israel baru saja mengalami penderitaan selama berpuluh tahun di pembuangan. Mereka pulang kepada kota yang hancur. Mereka masih ada di dalam keadaan yang belum nyaman. Tapi mereka bisa bernyanyi dan memuji Tuhan dan berkata bahwa Tuhan itu baik.

    Kenapa? Karena mereka melihat Tangan-Nya sudah menuntun mereka keluar dari Babel, sehingga meskipun kemuliaan-Nya belum sepenuhnya dinyatakan, tapi mereka punya pengharapan dan gambaran akan kemuliaan yang ada menantikan mereka.

    Mereka melihat kesetiaan Tuhan yang selalu terbukti. Meskipun nenek moyang berkali-kali menjauh dari Tuhan dan masuk ke dalam penghukuman, tapi Tuhan setia dan selalu menepati janji-Nya dan mengeluarkan mereka dari kesesakan.

    Pujilah Tuhan karena Ia baik!

    Di dalam Alkitab, paling tidak ada lima puluh ayat yang menuliskan kasih setia Allah ada untuk selama-lamanya. Ini adalah sebuah janji, bukti dan pegangan yang teguh bagi kita: kasih setia Allah ada untuk selama-lamanya!

    Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. 
    TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu! 

    Mazmur 138:7-8 (TB)

    Karena itu janganlah kita gentar. Hidup kita mungkin sulit. Tapi kehadiran Allah dan kasih setianya ada untuk selama-lamanya. Kita bisa setiap saat datang kepada-nya dan memohon pertolongannya di dalam hidup kita. Dia Allah yang setia yang tidak pernah meninggalkan anak-anaknya.

    Karena itu marilah kita bersyukur. Seperti kata teman saya: Tuhan kita baik! Terpujilah Nama-Nya. Amin.

  • Keindahan Sejati

    Keindahan Sejati

    Sekali waktu saya sedang berjalan pulang ke rumah dan melewati rumah seorang tetangga. Saya memperhatikan betapa hijau dan rapinya rumput di halaman belakang rumah mereka – terpotong rapi dan hijau bak rumput di lapangan golf. Berbeda sekali dengan halaman belakang rumah kami yang tidak ada rumputnya, hanya ada batu-batu dan sedikit tumbuhan liar yang tumbuh di sela-selanya.

    Oh, ternyata rumput buatan, pikir saya. Rumput buatan atau rumput sintetis terbuat dari bahan plastik yang dibuat menyerupai rumput asli lalu dipasang menutupi permukaan pekarangan. Rumput ini dapat tetap hijau apapun kondisi cuacanya. Rumput buatan dijual dalam bentuk seperti karpet yang bisa dengan mudah dihamparkan di taman kita. Tidak perlu repot menanam rumput, tidak membutuhkan banyak perawatan, dan rumah kita pun bisa terlihat ‘hijau’ dan asri.

    Bukan hanya rumput, kepintaran manusia dan kemajuan teknologi memungkinkan terciptanya begitu banyak ‘barang buatan’. Benda-benda yang sebenarnya hanya bisa diciptakan oleh Tuhan sudah dapat dibuat tiruannya. Bunga plastik, gigi palsu, kaki palsu, pantai buatan, sampai-sampai bagian tubuh bisa direkonstruksi – baik untuk alasan kesehatan, maupun untuk memperbaiki penampilan.

    Keindahan datang dari Tuhan tetapi rusak oleh dosa

    Saya percaya bahwa kita manusia memiliki rasa cinta akan keindahan yang awalnya datang dari Tuhan. Di dalam proses penciptaan, dituliskan beberapa kali bahwa sesudah Allah menciptakan sesuatu, Dia berhenti dan melihat semuanya itu baik. Bisa kita bayangkan, bumi yang baru diciptakan oleh Allah pastilah sangat dan teramat indah dan sempurna. Begitu indah melebihi bumi yang kita huni sekarang.

    Sejak awal, manusia memang ditempatkan di bumi untuk memelihara dan menjaganya. Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk menilai sesuatu itu baik, benar ataupun indah, supaya kita tahu apa yang baik dan yang bagus untuk diusahakan.

    Tetapi sejak manusia jatuh ke dalam dosa, pemeliharaan ini menjadi hal yang lebih berat untuk dilakukan. Bukan hanya jiwa dan hati manusia yang mengalami kerusakan, bumi pun menjadi rusak. Keinginan dan standard manusia akan keindahan pun menjadi tidak sempurna lagi. Kita tidak bisa melihat ‘keindahan’ sama seperti Allah melihatnya karena gambaran Allah yang ada di dalam diri kita sudah rusak.

    Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

    Kejadian 6:12 (TB) 

    Manusia sering berfokus di luar saja

    Jadi adalah naluri manusia untuk menjadi indah, untuk memiliki sesuatu yang indah, yang baik untuk dipandang. Sayangnya, hal ini kemudian menjadi sebuah masalah karena akhirnya kita menjadi mudah untuk terpaku atas keindahan lahiriah, atas hal-hal yang mudah dilihat oleh mata.

    Wajah cantik, postur tubuh sempurna, rambut yang tebal dan sehat – semua itu menjadi tujuan dan keinginan begitu banyak orang. Dinding media sosial dipenuhi dengan selfie – sebuah usaha untuk membuktikan bahwa ‘saya’ ini menarik dan indah untuk dipandang.

    Penampilan menjadi sebuah obsesi, dan untuk mencapainya, kita sering menjadi tidak sabar di dalam prosesnya. Dengan adanya kemajuan zaman di mana semua bisa diciptakan, manusia bisa menggunakan segala cara untuk tampil sempurna.

    Standar keindahan yang sudah rusak ini juga sering menimbulkan tuntutan di hati manusia terhadap sesamanya. Terkadang kita sulit menerima orang-orang yang tidak sesuai dengan standar keindahan kita. Terkadang ada rasa tidak nyaman bila berada di dekat orang yang menurut subjektivitas kita mereka tidak ‘indah’ atau tidak sempurna.

    “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”

    Roma 9:20-21 (TB)

    Saya pribadi merasa bahwa saya cukup bisa menerima semua orang dengan segala keadaan mereka. Tapi sejujurnya, ada saatnya bila saya bertemu dengan orang dari suku bangsa lain dengan feature fisik yang jauh berbeda dengan yang saya biasa temui, ada rasa jengah terasa di dalam hati. Rasa aman, rasa penerimaan menjadi tergantung kepada standar subjektif yang saya ciptakan sendiri.

    Masalah yang banyak terjadi di zaman ini seperti aborsi, pertukaran gender, bahkan pemusnahan suku bangsa oleh suku bangsa lainnya, dan masih banyak lagi – semua ini terjadi karena ada standar keindahan yang salah dan obsesi terhadap keindahan tersebut.

    Terkadang kita pun terfokus pada penampilan iman

    Bukan hanya penampilan fisik, tetapi sering sekali kita terjebak ke dalam keinginan untuk memiliki penampilan iman yang sempurna. Mungkin hal ini tidak secara sengaja dilakukan, atau tidak dilakukan dengan sadar.

    Kita semua ingin melakukan yang terbaik untuk Tuhan, ingin menampilkan yang paling indah untuk kemuliaan Tuhan. Tetapi sangat mudah untuk akhirnya jatuh kepada rutinitas dan lalu melupakan apakah motivasi kita yang terutama di dalam melayani Tuhan. Seringkali keindahan pelayanan itu sendiri menjadi fokus utama kita sehingga kita bukan lagi bersukacita atas Firman Tuhan yang diberitakan, melainkan gembira akan kesuksesan pekerjaan kita.

    Tuhan Yesus sendiri menyorot hal ini di dalam masa pelayanannya di dunia. Orang-orang Farisi yang begitu rajin dan bersemangat mengerjakan pekerjaan agama, ternyata akhirnya dikritik oleh Tuhan. Pekerjaan dan penampilan mereka yang sempurna malah ternyata tidak diterima oleh Allah karena di dalam hati mereka, mereka tidak melandaskannya atas dasar kasih kepada Allah dan kepada sesama.

    “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
    Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
    Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
    Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
    mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
    mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
    Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

    Matius 23:2-8 (TB) 

    Tuhan melihat dan memeriksa hati manusia

    Berbeda dengan kemampuan manusia yang hanya bisa melihat apa yang terlihat oleh mata, Tuhan mampu melihat ke dalam hati kita. Dan Dia melihat keindahan melampaui keindahan yang distandarkan oleh manusia.

    Pada saat Samuel mencari Daud untuk mengurapinya menjadi raja, Samuel sempat terkesima melihat saudara-saudara Daud yang terlihat begitu gagah dan cakap. Namun Tuhan menegur Samuel dan berfirman,

    Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 

    1 Samuel 16:7 (TB) 

    Tuhan melihat ke dalam hati kita untuk menemukan keindahan di dalam diri kita. Dia suka melakukannya dan mampu melakukannya. Dia adalah Tuhan yang mampu melihat kepada hati kita, mencari ke dalam motivasi kita yang paling dalam dan menilai segala perbuatan kita.

    Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

    Yeremia 17:10 (TB) 

    Saya pernah mendengar seorang pendeta berkata, “Seperti apa adanya Anda ketika tidak ada seorang pun yang melihat, itulah Anda yang sebenarnya.” Ketika orang-orang tidak sedang melihat kepada kita, apa yang kita lakukan dan pikirkan, bagaimana kita bersikap dan menjalani kehidupan kita apa adanya, tanpa ada usaha untuk memberikan kesan yang baik atau menjaga penampilan – sedalam itu dan lebih dalam lagi, Tuhan mampu melihat kita seutuhnya.

    Kemuliaan Allah di atas kemuliaan manusia

    Tidak ada yang salah bila kita ingin mencapai keindahan. Merawat tubuh, menjaga penampilan, merawat rumah, dan melakukan pekerjaan sebaik-baiknya, itu semua adalah bagian dari mandat dan tugas yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia. Kita memang diutus oleh-Nya untuk melakukan yang terbaik agar bumi dan segala isinya (termasuk tubuh kita secara lahiriah) terpelihara dengan baik keadaannya.

    Tapi apakah sukacita kita menjadi tergantung kepada hal-hal tersebut di atas? Bila kita sudah mengerjakan yang terbaik tetapi rumah kita masih belum rapi atau indah, atau kita melihat fisik kita tidak sempurna – apakah kita menjadi kesal dan menjadi tidak sejahtera?

    Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

    1 Petrus 3:3-4 (TB) 

    Apakah kita menuntut orang lain untuk memenuhi standar keindahan yang kita buat, lalu menjadi kecewa bahkan membenci bila mereka tidak dapat mencapainya? Apakah kebanggaan kita tergantung kepada penampilan kita, atau kepada keberhasilan pekerjaan kita?

    Kemuliaan siapakah yang sebenarnya kita hendak cari ketika kita menjalankan tugas dari Allah ini? Bila kita melakukan dan menjadi yang terbaik, apakah itu untuk kemuliaan Dia yang sebenarnya adalah pemberi segalanya, atau itu untuk kemuliaan kita sendiri yang sudah merasa berlelah mengerjakannya?

    “Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

    Amsal 4:20-23

    Marilah kita dengan setia melakukan segala pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Menjaga dan memelihara diri sendiri, anggota keluarga, dan bumi ini. Mengerjakan segala pekerjaan sepenuh hati.

    Tetapi juga dengan rendah hati rutin memeriksa hati kita di hadapan Tuhan. Memeriksa apakah motivasi kita masih sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Menjaga hati kita dengan waspada, karena Tuhan melihat ke dalam hati kita dan menemukan keindahan hidup kita di dalamnya. Amin.

  • Buku Favorit

    Buku Favorit

    Di dekat rumah saya ada sebuah toko buku yang besar. Toko ini memiliki interior yang indah dan koleksi buku yang lengkap. Bukan hanya menjual buku, toko ini juga secara berkala menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan membaca buku. Salah satu kegiatannya adalah pertemuan dengan pengarang buku best seller.

    Diadakan di lobby utama, pertemuan ini biasanya diisi dengan acara tanya jawab dan pemberian tanda tangan si pengarang di buku yang dibeli penggemarnya. Bagi para penggemar, bisa bertemu langsung dengan pengarang buku favorit mereka adalah kesempatan yang sangat berharga! Apalagi bila mereka sempat bertukar kata.

    Penggemar ini akan datang dengan membawa buku favoritnya untuk ditandatangani oleh si pengarang. Karena itu adalah buku kesukaannya, dia pasti sudah membaca seluruh isinya, bahkan bisa berulang-ulang dibaca sampai selesai! Dan kalau sang pengarang menulis lebih dari satu buku, penggemarnya akan dengan antusias membeli buku-buku yang lain juga.

    Apabila kita memiliki tokoh idola, umumnya kita ingin mengetahui banyak hal tentang mereka. Entah tokoh itu adalah seorang penyanyi, aktor, ataupun pemimpin negara, kita akan merasa tertarik untuk menikmati semua karya mereka dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang mereka. Dan bila suatu hari kita mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dan berbincang dengan mereka, pastilah kita ingin menunjukkan betapa kita tahu banyak tentang tokoh idola ini dan karya-karyanya.

    Saya membayangkan kalau kita bertemu Tuhan di Surga nanti, akan ada kesempatan untuk kita berbincang-bincang dengan Dia. Hal-hal apakah yang akan kita katakan kepada Tuhan bila kita bertemu dengan-Nya? Bisakah kita menunjukkan kepada-Nya bahwa kita mencintai Dia dan mengenal Dia?

    apa jawabanmu tentang buku favorit

    Dan bila Dia bertanya, sudahkah kamu membaca Firman-Ku? Apakah kamu menikmati Firman-Ku selama kamu di dunia? Apa pendapatmu tentang Buku-Ku? Apa jawaban kita?

    Membaca Firman Tuhan sebagai tanda cinta

    Sama seperti seseorang yang sedang jatuh cinta dan ingin menyampaikan isi hatinya kepada kekasihnya, Allah menggunakan Alkitab sebagai Firman Tuhan seperti surat cinta untuk kita. Di dalam Alkitab Allah menyampaikan isi hati-Nya, keinginan-Nya, kerinduan-Nya, kesetiaan-Nya, janji-janji-Nya dan kehendak-Nya kepada kita.

    Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    Yohanes 3:16 (TB)

    Di dalam Firman-Nya inilah Ia menyampaikan rasa kasih yang begitu besar kepada kita. Bagaimanakah kita bisa berkata kepada pasangan kita: aku mengasihi kamu sepenuh hati, tapi maaf aku tidak sempat membaca surat-surat yang kamu kirimkan? Sama seperti itu, adalah wajar bila kita mewujudkan kasih kita kepada Tuhan dengan giat menggali Firman-Nya, untuk mengetahui apa saja yang Ia ingin sampaikan kepada kita.

    Firman Tuhan sebagai sarana komunikasi

    Kita manusia sering sekali ingin tahu apa kehendak Tuhan di dalam hidup kita. Kita ingin bisa mendengarkan suara yang agung bergema di tengah malam untuk menyatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Atau kita menunggu mimpi dan penglihatan bahkan mencari hamba Tuhan dan orang bijaksana untuk mencari tahu kehendak Tuhan.

    Tetapi justru Firman Tuhan yang sudah nyata di dalam bentuk fisik: Buku Tuhan atau Alkitab sering kita indahkan. Padahal justru inilah cara pertama dan cara utama untuk mendengarkan suara Tuhan dan mengetahui kehendak-Nya di dalam kehidupan kita.

    Ada sebuah kutipan dari Our Daily Bread yang berkata: Allah berbicara kepada orang-orang yang mengambil waktu untuk mendengar, dan Ia mendengarkan suara orang-orang yang mengambil waktu untuk berdoa. 

    Mendengarkan Firman Tuhan bisa kita lakukan melalui mendengarkan khotbah dari Pendeta atau penginjil terkenal atau lewat membaca buku-buku. Tapi mendengarkan langsung Firman-Nya, selama kita masih ada di dalam dunia hanya ada satu caranya yaitu melalui membaca Alkitab.

    Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

    2 Timotius 3:16-17 (TB)

    Allah berbicara kepada kita melalui Alkitab. Bila kita ingin mendengar suara-Nya: bacalah Firman-Nya!

    Firman Tuhan adalah pemberi kehidupan

    Tuhan Yesus berkata bahwa manusia membutuhkan Firman Tuhan setiap hari supaya mereka dapat tetap hidup.

    Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

    Matius 4:4 (TB)

    Di sini kita melihat betapa pentingnya SETIAP kata yang dicatat di dalam Alkitab. Tidak ada perkataan Allah di dalam Alkitab yang tertulis dan tidak ada gunanya bagi kehidupan kita. Setiap kata yang dituliskan di dalam Alkitab, diinspirasi oleh Allah untuk memimpin kita menjalani kehidupan yang benar, untuk menuju kehidupan yang kekal.

    Mungkin Sahabat bertanya, bukankah ada banyak orang yang tidak pernah membaca Firman Tuhan tapi toh mereka hidup juga, dan baik-baik saja? Saya sendiri percaya di sini ‘hidup’ itu bukan sekedar fisik kita yang masih bernyawa, tetapi ‘hidup’ di mana roh kita bisa bersatu, bisa berjalan bersama Roh Allah. Karena meskipun kita masih hidup di dunia ini, bila kita terpisah dari Allah karena dosa, kita sebenarnya sedang mati secara rohani.

    Di situlah kita membutuhkan Firman-Nya sebagai makanan bagi kehidupan roh kita. Di situlah kita butuh untuk dibimbing oleh-Nya, setiap hari. Sama seperti tubuh ini butuh makan nasi (kita orang Indonesia nggak bisa ya makan roti saja setiap hari), roh kita membutuhkan Firman yang Hidup setiap hari sebagai sumber energi.

    Selagi mungkin, gunakanlah kesempatan

    Tidak semua orang memiliki akses kepada Alkitab secara bebas dan merdeka. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mempelajari Firman Tuhan secara mendalam. Mungkin karena keterbatasan fisik, atau kekurangan pengetahuan mereka belum bisa leluasa membaca Alkitab sebanyak-banyaknya.

    Tetapi ini adalah panggilan bagi kita, orang-orang yang sudah dianugerahi TUhan kemampuan untuk membaca, merenungkan, menyelidiki dan mempelajari Firman. Ini adalah kesempatan untuk sebanyak mungkin mengambil sari kehidupan dari Firman yang hidup ini, untuk kemudian kita bagikan kepada orang-orang di sekitar kita.

    Tentu saja, ‘banyak atau tuntas membaca Alkitab’ bukanlah syarat untuk bisa masuk surga. Saya percaya cinta Allah kepada kita jauh lebih besar dari syarat dan formalitas bahwa kita sudah begitu atau sudah selesai begini. Kasih-Nya pada kita diberikan-Nya tanpa syarat.

    Tetapi kita bisa meng-amini Kasih-Nya, dengan cara selalu rindu untuk mengetahui Dia, untuk mengenal Dia, untuk mendengar suara-Nya, melalui membaca Firman-Nya. Mari kita rajin untuk membaca Alkitab, karena Firman Tuhan adalah terang bagi kehidupan kita. Amin.