Hari masih pagi dan matahari belum lagi naik. Anak-anak sibuk dengan sarapannya dan saya makan pagi sambil membuatkan bekal buat mereka bawa ke sekolah. Tiba-tiba si sulung bertanya, “Mama, mengapa kamu tidak pernah tertawa?”
Dengan kening sedikit berkerut, saya bertanya kembali, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Anak-anak kami suka sekali ngobrol di meja makan dan itu membuat waktu makan mereka lebih panjang. Kami sering sekali terlambat karena mereka belum bisa fokus dan cepat dalam bersiap-siap.
“Ya, karena kata guruku di sekolah, orang yang tertawa akan panjang umurnya. Anak-anak sering tertawa – bisa 300 kali dalam satu minggu. Tapi orang dewasa hanya empat kali tertawa dalam seminggu,” jawab anak saya. Sambil masih sibuk memikirkan barang-barang apa saja yang saya harus siapkan, saya menjawab, “Ya, mama pasti gampang tertawa kalau kalian menurut sama Mama. Tapi kalau kalian selalu susah mendengar dan tidak langsung tanggap apa yang mama perintahkan, bagaimana Mama mau gampang tersenyum dan tertawa?”
Pagi itu, ketika anak-anak pergi ke sekolah, saya duduk dan menemukan ayat ini di layar telepon saya:
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
Filipi 4:4 (TB)

Hati saya langsung tertegur. Anak saya benar, saya perlu tertawa, saya perlu bersukacita.
(more…)
